Kesalahan yang harus dihindari saat menghadapi dosen penguji

Jangan bermain api dengan dosen penguji skripsi, ini menentukan kelulusanmu

Kesalahan yang paling sering dalam menghadapi dosen penguji adalah menyampaikan pendapat tanpa sumber referensi yang jelas. Sebaiknya jika ingin menyampaikan pendapat atau argumen kepada dosen penguji didahului dengan menunjukkan referensi yang jelas. Misalkan begini, ”Menurut Anabul dalam penelitiannya tahun XXX menunjukkan bahwa penggunaan metode Y efektif untuk mengatasi masalah Z. Karena itu metode Y saya gunakan dalam mengatasi masalah pada skripsi saya”. Selama dosen penguji tidak memiliki penelitian atau referensi bantahan, kemungkinan besar dosen penguji akan meyakininya.

Selain itu, ada juga kesalahan mengungkapkan sesuatu dengan motif bisa menjawab tanpa tahu jawaban tersebut tepat atau tidak. Kondisi ini terjadi ketika kita minim referensi atau kurang membaca jurnal namun kita berusaha untuk seolah-olah mampu menjawabnya. Sebaiknya hindari kejadian seperti ini, jika tidak tahu katakanlah tidak tahu, jika tahu maka gunakanlah referensi yang benar.

Kesalahan lain yang cukup fatal adalah menyalahkan pembimbing ketika dipojokan dosen penguji. Misalkan dosen penguji mengatakan bahwa metode kamu ini tidak efektif, jangan sampai kamu mengatakan bahwa dosen pembimbing yang menyuruh menggunakan metode tersebut. Intinya hindari mengadu dosen penguji dan dosen pembimbing selalu gunakan argumentasi yang ilmiah.

Salah satu kesalahan yang paling dibenci oleh dosen penguji adalah kesalahan logika. Kesalahan logika ini dapat digambarkan seperti antara premis dan kesimpulan tidak nyambung. Misalkan saja premisnya adalah hasil akurasi tinggi, namun prosesnya lama. Sementara itu kesimpulan peneliti adalah metode yang digunakan hasilnya efektif. Pertanyaannya, apakah akurasi tinggi dan proses lama itu sama dengan efektif? Apakah ini logis? Apa saja kriteria efektif itu? Jangan sampai salah logika.

Kesalahan yang paling tidak dapat diselamatkan adalah ketika peneliti belum siap sidang tapi memaksakan diri. Skripsinya belum rapi, masih acak-acakan, kemudian nekat mendaftar sidang skripsi. Alasannya beragam, bisa karena waktu pendaftarannya sudah mepet, atau memang sengaja dimepet-mepetkan. Melobi dosen pembimbing untuk menyetujui mengikuti sidang skripsi. Dapat dipastikan ini akan berakhir buruk di tangan dosen penguji. Jadi sebaiknya jangan mencoba skenario ini, jika tidak ingin mengulang ujian skripsi.

Dalam beberapa kasus jangan sekali-sekali mencoba menyuap dosen penguji, entah itu dengan makanan, minuman, ataupun jam tangan mewah. Namun dalam beberapa kasus, ada beberapa kampus yang kulturnya adalah makanan dan minuman itu dibawa oleh peserta ujian. Jadi perhatikan dulu kultur kampusmu, agar tidak disangka melakukan penyuapan.

Kesalahan yang paling sering justru setelah selesai sidang. Peserta ujian sidang skripsi tidak segera merevisi dan menemui dosen penguji. Jika ini yang terjadi, konsekuensinya adalah keterlambatan anda untuk mendaftar yudisium sehingga tidak dapat mengikuti wisuda, dan dianggap belum lulus.

Hindarilah kesalahan-kesalahan di atas agar sidang skripsimu lancar. Demi kelancar proses pendaftaran yudisium hingga wisuda, segera temui dosen penguji untuk revisi setelah sidang.